Entri Populer

Senin, 15 Oktober 2012

nicolaus copernicus dan kontroversi teori heliosentris


Nicolaus Copernicus
Niklas Koppernigk (latin: Nicolaus Copernicus; bahasa Polandia Mikołaj Kopernik; lahir di Toruń, 19 Februari 1473 – meninggal di Frombork, 24 Mei 1543 pada umur 70 tahun) adalah seorang astronom, matematikawan, dan ekonom berkebangsaan Polandia, yang mengembangkan teori heliosentrisme (berpusat di matahari) Tata Surya dalam bentuk yang terperinci, sehingga teori tersebut bermanfaat bagi sains. Ia juga seorang kanon gereja, gubernur dan administrator, hakim, astrolog, dan tabib. Teorinya tentang Matahari sebagai pusat Tata Surya, yang menjungkirbalikkan teori geosentris tradisional (yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta) dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa, dan merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan sains modern (teori ini menimbulkan revolusi ilmiah). Teorinya memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia lainnya. Universitas Nicolaus Copernicus di Torun, didirikan tahun 1945, dinamai untuk menghormatinya.

“Ada beberapa 'pembual' yang berupaya mengkritik karya saya, padahal mereka sama sekali tidak tahu matematika, dan dengan tanpa malu menyimpangkan makna beberapa ayat dari Tulisan-Tulisan Kudus agar cocok dengan tujuan mereka, mereka berani mengecam dan menyerang karya saya; saya tidak khawatir sedikit pun terhadap mereka, bahkan saya akan mencemooh kecaman mereka sebagai tindakan yang gegabah”.
Nikolaus Kopernikus menulis kata-kata yang dikutip di atas kepada Paus Paulus III. Kopernikus mencantumkan kata-kata itu dalam karya terobosannya yang berjudul On the Revolutions of the Heavenly Spheres (mengenai perputaran bola-bola langit), yang diterbitkan pada tahun 1543. Mengenai pandangan yang dinyatakan dalam karyanya ini, Christoph Clavius, seorang imam Yesuit pada abad ke-16, mengatakan, "Teori Kopernikus memuat banyak pernyataan yang tidak masuk akal atau salah". Teolog Jerman, Martin Luther, menyayangkan, "Si dungu itu akan mengacaukan seluruh ilmu astronomi".
HELIOSENTRIS DAN PERKEMBANGANNYA

        Bumi adalah tempat manusia berpijak dan merupakan satu hal yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita oleh karena itu maka tidak aneh beila ilmu tentang bumi berkembang sejak dulu kala. Begitu juga dengan matahari yang merupakan sumber cahaya bagi manusia dan makhluk lainnya di muka bumi ini.
Pembicaraan tentang bumi dan matahari adalah pembicaraan yang sangat menarik sejak zaman dahulu kala. Perbicaraan ini sudah dimulai semenjak zaman Pra-Sains ketika para filosofi di berbagai macam peradaban seperti Mesir, Mesopotamdia, India dan peradaban-peradaban awal di bumi yang mengungkapkan pendapat mereka tentang bumi mulai dari bentuknya yang banyak mengandung nilai spirit begitu juga tentang matahari dan benda-benda langit lain yang tentunya sangat kenral dengan nilai spiritual dan pekembangan budaya di tempat ilmu itu berkembang
Perkembangan Heliosentris tidak akan pernah lepas darai berkembangnya geosentris yang semenjak zaman pra-sains selalu menjadi perdebatan di kalangan filosofi ataupun ilmuan di berbagai macam tempat. Pandangan geosentris zaman pra-sains diungkapkan oleh para ilmuan Yunani seperti Anaximander, Phytagoras, Eudoxus, Hipparchus Klaudiusz Ptolemeusz dan Aristoteles yang menyatakan faham mereka tentang geosentris yaitu bahwa bumi dan manusia adalah pusat dari tata surya dan planet serta benda-benda langit lainnya bergerak mengelilingi bumi termasuk matahari. Pendapat ini diyakini oleh sebagian besar ilmuan zaman itu walaupun pada zaman ini sudah ada ilmuan yang mengungkapkan tentang teori heliosentris yaitu Aristachus di Mesir.
Klaudiusz Ptolemeusz mengungkapkan fahamnya tentang pandangangeosentrisnya pada sebuah karyanya yaitu "Megale syntaksis". Pada karyanya ini Ptolemeuszz mengungkapkan bahwa bumi merupakan pusat dari tata surya, planet dan matahri bergerak mengelilingi bumi secara seragam dengan lintasan melingkar yang semakin dekat lingkarannya semakin kecil.
Pemahaman geosentris ini terus bertahan sampai diterjemahkan ke banyak bahasa salah satunya diterjemahkan ke bahasa arab yang kemuddian dipelajari oleh ilmuan ilmuan muslim di sana. Mereka banyak mengkeritik pandangan geosentris yang tertera pada karya besar Ptolemeusz yang berjudul Almagest pada abad ke-8 M, salah satunya buku tersebut dikeritik oleh Al-Farghani pada abad ke-9 M telah mengkoreksi data-data dan cara-cara perhitungan astronomis yang lebih akurat dan ilmdiah daripada Ptolemeusz. Pada abad yang sama Tsabit ibn Qurrah juga mengkoreksi sistem bola langit Ptolemeusz.
Kemuddian Al-Battani pada abad ke-10 M telah sampai pada upaya mengkoreksi dan mengkritik konsep-konsep dasar sistem astronomi Ptolemeuszz, kemuddian dia merenovasi astronomi Ptolemus yang statis menjadi astronomi dinamis sehingga karya-karyanya masih dikutip oleh para astronom terkemuka Eropa sampai abad ke-18 M. Selain itu Ibn al-Haitsam pada abad ke-11 M telah melukiskan gerak planet  dalam suatu model non-Ptolemeusz, dia juga menggugat tafsiran Ptolemeusz terhadap langit-langit sebagai bentuk-bentuk geometris abstrak belaka. Al-Biruni juga pada abad ke-11 telah mengajukan untuk pertama kalinya dalam dundia astronomi mengenai gerak bumi mengelilingi matahari, dan telah membahas pula kemungkinan rotasi bumi di sekeliling sumbunya.
Akhirnya ilmuan muslim yang paling fenomena Nashiruddin al-Thusi pada abad ke-13M mendirikan observatorium di Maragha, yang menurut Nasr, menjadi jembatan penghubung perkembangan astronomi Islam dengan astronomi Eropa. Observatorium ini memiliki instrumen-instrumen astronomis yang sangat maju dan lengkap pada masanya, dan menjadi pusat ilmdiah yang masyhur di kalangan sarjana di Timur dan Barat. Al-Thusi mengajukan model planet yang baru, yang non-Ptolemeusz. Salah satu temuan ilmdiahnya ddiabadikan hingga sekarang dengan istilah Tusi couple (pasangan Tusi). Model planet baru al-Thusi itu memang diteruskan dan diselesaikan oleh murid-muridnya seperti Ibn Syathir dan Quthbuddin al- Syirazi. Teori yang dimaksud adalah teori heliosentris yang kita kenal sekrang.
Namun ilmuan yang lebh kita kenal sebagai orang yang menyatakan pandangan heliosentris secara eksperimen adalah Nicolas Copernicus. Dia adalah seorang agamawan yang bekerja sambilan sebaga ilmuan di gereja dia juga sudah mempelajari penemuan-penemuan filosof Yunani sebelumnya tentang pandangan geosentris. Copernikus mengungkapkan pandangannya melalui karyanya yaitu De Revolutionibus Orbium Coelestium (Tentang Revolusi Bulatan Benda-benda Langit) pada abad ke-15, yang melukiskan teorinya secara terperinci dan mengedepankan pembuktdian-pembuktdiannya. Untuk menghindari kontroversi yang terjadi di pihak gereja maka pada kata pengantar buku ini Copernikus menyampaiakan bahwa buku ini hanya merupakan pemapara model tata surya secara matematis.
Dalam buku itu Copernicus mengatakan bahwa bumi berputar pada porosnya, bahwa bulan berputar mengelilingi matahari dan bumi, serta planet-planet lain semuanya berputar mengelilingi matahari. Tapi, seperti halnya para pendahulunya, ddia membuat perhitungan yang serampangan mengenai skala peredaran planet mengelilingi matahari dan pada karyanta ini juga dia masih menyebutkan bahwa lintasan planet-planet itu berbentuk bulat. Copernikus juga menyampaikan keberatannya tentang possi merkurius dan venus pada pandangan geosentris.
Ide yang disampaikan oleh Copernikus ini banyak memiliki kesamaan dengan ide yang disampaikan oleh Nashiruddin Al-Thusi, ada ilmuan yang menyebutkan bahwa sebenarnya Al-Thusi lah sebenarnya yang pertama kali menyampaikan pendapatnya tentang heliosentris secara ilmiah dan Copernikus hanyalah menjiplak apa yang ditemukannya, tetapi karena faktor sejarah Copernikus lebih dikenal sebagai pencetus walaupn Aristachus jauh-jauh hari juga telah menyampaikan pendapatnya tentang heliosentris, tapi apa yang dismapaikan oleh Aristachus ini tidak didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang kuat.

Kontroversi Teori Heliosentris oleh Nicolaus Coprnicus

(Kontroversi manuskrip)

Copernicus menggunakan tahun-tahun terakhir kehidupannya untuk memperbaiki dan melengkapi berbagai argumen dan rumus matematika yang menopang teorinya. Lebih dari 95 persen dokumen akhir itu memuat perincian teknis yang mendukung kesimpulannya. Dokumen tulisan tangan orisinal ini masih ada dan disimpan di Universitas Jagiellonian di Kraków, Polandia. Dokumen ini tidak berjudul. Oleh karena itu, astronom Fred Hoyle menulis, "Kita benar-benar tidak tahu bagaimana Copernicus ingin menamai bukunya itu".
Bahkan sebelum karya itu diterbitkan, isinya telah membangkitkan minat. Copernicus telah menerbitkan sebuah rangkuman singkat tentang gagasannya dalam sebuah karya yang disebut Commentariolus. Alhasil, laporan tentang penelitiannya sampai ke Jerman dan Roma. Pada awal tahun 1533, Paus Klemens VII mendengar tentang teori Copernicus. Dan, pada tahun 1536, Kardinal Schönberg menyurati Copernicus, mendesak dia untuk menerbitkan catatan lengkap gagasannya. Georg Joachim Rhäticus, seorang profesor di Universitas Wittenberg di Jerman, begitu penasaran oleh karya Copernicus sampai-sampai ia mengunjungi Copernicus dan akhirnya menghabiskan waktu bersamanya selama dua tahun. Pada tahun 1542, Rhäticus membawa pulang sebuah salinan manuskrip itu ke Jerman dan menyerahkannya kepada seorang tukang cetak bernama Petraeius dan seorang juru tulis sekaligus korektor tipografi bernama Andreas Osiander.
Osiander menjuduli karya itu De revolutionibus orbium coelestium (Mengenai Perputaran Bola-Bola Langit). Dengan mencantumkan frasa “bola-bola langit”, Osiander menyiratkan bahwa karya itu dipengaruhi oleh gagasan Aristoteles. Osiander juga menulis kata pengantar anonim, yang menyatakan bahwa hipotesis dalam buku itu bukanlah artikel tentang iman dan belum tentu benar. Copernicus tidak menerima salinan dari buku yang dicetak itu, yang diubah dan dikompromikan tanpa seizinnya, sampai hanya beberapa jam sebelum kematiannya pada tahun 1543.

Sekian dan terima kasih J
wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar