Entri Populer

Minggu, 16 Maret 2014

Blondy Bob and The Red Mushroom


Waktu itu aku masih seorang gadis kecil yang sering mereka sebut bocah ingusan dengan rambut pirang bob yang kampungan. Mereka selalu mengejekku, tapi dialah yang terparah! Salah satu darimereka yang duduk ditengah. Berambut merah seperti api, atau “erec rex” si raja. Bermuka oval danbermata biru sepertiku, dengan bintik-bintik di daerah sekitar bawah wajahnya. Kata ibuku, itu adalah keturunan. Tapi menurutku tidak begitu. Maksudku? Apa sifat buruknya juga keturunan? Aku bahkan tidak bisa membuatnya mencintaiku.
******
Sudah sekitar 6 tahun aku tidak menginjakkan kakiku disini, texas. Tidak seperti di film spongebob. Texas yang kutempati tidak gersang, dan penuh koboi. Disini lebih hijau, dan... gemerlap.

“senang sekali sayang kau bisa berkunjung” bibi jane, wanita paruh-bayah berambut pirang kecoklatan –sama sepertiku- memeluk tubuh rampingku hangat, sehangat matahari california tempatku menghabiskan 6 tahun setelah pergidari kota ini.

“aku juga. Bibi tidak tahu betapa aku sangat merindukan pony, juga moob”

“moob si-moogy? Haha kau tidak akan mengenalinya sekarang!!” jane bersorak riang, aku mulai merasa selama 6 tahun kepergianku telah banyak yang berubah disini. Maksudku? Tidak mungkin semuanya akan tetap sama setelah bertahun-tahun, bukan?

“oh ya?! Aku tidak sabar bertemu dengannya. Menurutmu jane, apa dia akan suka dengan kulit californiaku? Haruskah aku memakai hots pants dan bikini kemudian menari didepannya?”

“hahaha... itu ide bagus untuk pesta barbekyu di halaman belakang siang ini. Akan ada banyak selang, kolam air yang kau suka... dan, sebaiknya kau masuk dulu” jane menuntunku. Penuh semangat dan kehangatan seperti ibu.
******
Jane memberiku sekaleng cola, dan kami kembali bercerita penuh semangat tentang segala hal yang telah kulewatkan di  kota ini.

“bagaimana dengan alex?”

Jane yang tadinya tertawa lepas seketika memasang tampang curiga begitu aku menyebut nama alex.

“aku tahu maksudmu....” baiklah, wajah jane sangat menyebalkan

“maksud apa?” aku kebingungan. Baiklah, aku menyesal menanyakan soal si jamur merah.

“dia sekarang adalah seorang polisi super keren di kota. Kau tahu? Rambut merahnya yang selalukau hina itu menjadi daya tariknya sekarang, tentu setelah bodynya yang lebih baik ketimbang model susu L-men. Andai dia menjadi penjaga pantai....”

“andai aku belum bersuami” aku tercengang. Alex yang “berubah”, atau ini musim kawin jane?

“aku...tidak tertarik”

“apa?! Apa kau sudah memiliki yang seperti dirinya di california?”

Buru-buru aku menyangkalnya

“tidak!! Aku hanya tidak tertarik dengan alex. Itu saja”

“baiklah...” jane menyisipkan nada-nada aneh di perkataannya, kemudian pergi menyiapkan keperluan pesta di halaman belakang.

Alex seperti apa sekarang? Apa dia akan mengejekku lagi?
******
WOW!! Itukah Alex??!

Cowok berbadan kekar itu hanya menggunakan bawahan saja, membiarkan atasannyayang berotot dan menggiurkan itu seolah melambai. Alex bahkan seratus kali lebih menggoda ketimbang tom cruise atau si- brad pitt.

Wajah oval, mata nya kterlihat lebih tajam, tapi masih sama seperti dulu, biru. Bibirnya seksi dan merah (mungkin dia tidak merokok), telinganya, hidungnya, dan pipinya bahkan sangat keren dan rahangnya tajam membuatku memberinya gelar manly hanya dengan fisiknya.

Tapi, apa alex masih mengenalku?

Pertanyaanku terjawab secepat saat aku menanyakannya. Alex melihat kearahku, tersenyum dan kini dia berjalansantai dan penuh karisma kearahku.

“hai”

“ha...i” sapaku canggung.

“kau terlihat lebih cantik, gadis rpirang dengan potongan bob.” Alex tersenyum menggoda kearahku, menampilkan jajaran gigi putihnya yang tersusun rapi.

“rambut cepakmu juga lumayan”

Alex tersenyum senang. Sama sepertiku, dia terlihat tengahmengenang masa lalu kami, ketika dulu ia sering sekali menghina rambutku dan mengejekku bocah ingusan. Tapi itu yang kusuka darinya. Karenanyalah aku berusaha menjadi cantik. Dan disinilah aku sekarang. Cewek bermata biru dengan rambut pirang sebahu, berbody kuat tapi feminim, seperti model catwalk (tanpa tonjolan tulang), tinggi, cantik dan seksi.

“kau ada waktu besok?”


“well, tidak” kami saling melempar tatapan nakal. Kami... hubungan kami tidak akan berakhir sampai disini saja. Aku bahagia dia melihatku sebagai seorang gadis sekarang. 

Selasa, 11 Maret 2014

#FiksiLaguku

Back to you, when the holly night

Musim dingin telah berakhir. Kini, butiran salju berganti dengan tetes-tetes air. Aku memandang sisi atas payung yang melindungiku dari butiran air  yang masih sedingin es itu.

“berganti?” kata itu entah kenapa terlintas dibenakku. Mungkin karena itu tidak cocok dengan diriku sekarang. The holly night had already end 2 weeks ago, and i’m still stuck in that place.

Aku menyusuri jalanan kota yang masih sepi dengan kendaraan bermesin. Sepanjang jalan, banyak pasangan kekasih yang saling berbagi payung. “aku teringat kamu. Bagaimana ini?”

Hari itu aku sangat sedih. Malam itu, aku andai kau tetap tinggal, mungkin aku tidak akan sekacau ini. Tetes hujan semakin deras, dan aku harus lebih berhati-hati.

Mungkin sudah terlambat. Tapi, “masih adakah kesempatan buatku?”

Minggu, 09 Maret 2014

After Class Over



Kaku. Arin terpaku mendengar pengakuan Aryo yang sudah sangat lama diimpikannya.
“aku akan menjadi seorang perancang busana dan kau akan menjadi seorang model professional. Saat itu terjadi, mohon menikahlah denganku!!!” perkataan Aryo teman kelasnya itu terus saja terngiang-ngiang dibenaknya.
Mulut Arin terkunci, susah payah ia menelan air liur yang terasa membatu ditenggorokannya. Bahkan, untuk sekedar bernafas sekalipun Arin tidak sanggup.
Arin blank!! Apakah begini rasanya jika mengetahui cintamu tidak bertepuk sebelah tangan? Apa dunia seindah ini sebelumnya? Arin terus bertanya. Ia senang, tapi disatu sisi, ia bingung. Arin juga menyukai Aryo. Sangat suka, dan ini-lah mimpinya.
Hanya saja, Arin justru bertindak diluar keinginannya. Berlari keluar kelas yang telah dipenuhi cahaya merah jingga.
*****
JLEBB!! Apa yang harus Aryo lakukan sekarang? Kenapa ia begitu bodoh melamar Arin padahal mereka masih bocah 14 tahun? Ahh!! Aryo serasa gila memikirkannya.
Haruskah ia mengejar Arin dan berkata bahwa tadi hanya lelucon saja?
TIDAK!! Aryo serius menyukai Arin!! Aryo tidak akan menyerah.
30 menit Aryo berdiri mematung, tepat di tempatnya tadi tanpa bergerak sesentipun. Sangat gugup, bahkan memikirkan apapun aryo tidak bisa. Kakinya terpaku. Seseorang, atau setidaknya sesuatu telah memaku kaki Aryo disana, sementara Arin kini mungkin sudah berada di rumahnya, menganggap perkatan Aryo tadi hanya guyonan.
“tringgg...tring..” hape Aryo berbunyi. Itu panggilan dari Arin.
“aku....” suara Arin bergetar jelas dari sudut telepon sana.
APA!!!”pupil mata Aryo mengecil apa ia tidak salah dengar?!

“Arin juga suka Aryo. Sangat suka Aryo. Arin juga ingin menikah dengan Aryo ketika kita  sudah besar nanti, ketika mimpi kita terwujud. Sampai saat itu, tolong tunggulah aku. Ah.. aku juga akan menunggu Aryo. aku mencintaimu”
Itu adalah saat-saat teromantis, walaupun Arin menjawabnya lewat telepon. Apa yang ia harapkan? Arin memang cewek pemalu, persis tipenya.