Entri Populer

Sabtu, 25 Oktober 2014

[Fan Fiksi] [Cerpen] Meet Cath and Levi

[Diikutkan dalam lomba cerpen FANGIRL Penerbit Spring]



Dari penulis best-seller Eleanor and Park

Penulis: Rainbow Rowell
Terbit: November 2014

********

Ada cowok di dalam kamarnya.

       Cath mendongak untuk melihat nomor yang tertulis di pintu, lalu menunduk ke surat penempatan kamar di tangannya.

         Pound Hall, 913.

        Sudah pasti ini kamar 913, tapi mungkin bukan Pound Hall—semua asrama di sini terlihat sama, seperti bangunan perumahan untuk kaum jompo. Mungkin Cath sebaiknya mencoba menahan ayahnya sebelum ayahnya itu membawa sisa kardusnya ke atas.

          “Kau pasti Cather,” kata cowok itu, tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.

         “Cath,” kata Cath, merasakan sentakan rasa gugup di perutnya. Ia mengabaikan tangan cowok itu. (Lagian, ia memegang kardus, apa yang diharapkan cowok itu darinya?)

           Ada yang salah—pasti ada yang salah. Cath tahu kalau Pound itu asrama campuran…. Apa memang ada kamar campuran?

            Cowok itu mengambil kardus dari tangan Cath dan meletakkannya di atas tempat tidur yang kosong. Tempat tidur di sisi lain ruangan sudah dipenuhi dengan pakaian dan kardus.

“Apa barangmu masih ada yang di bawah?” tanya cowok itu. “Kami baru saja selesai. Kurasa kami akan pergi makan burger sekarang; kau mau burger? Apa kau sudah pernah ke Pear’s? Burgernya seukuran kepalanmu.” Cowok itu mengangkat lengan Cath. Cath menelan ludah. “Kepalkan tanganmu,” kata cowok itu.

               Cath melakukannya.

              “Lebih besar dari kepalanmu,” kata cowok itu, melepaskan tangan Cath dan mengangkat tas punggung yang Cath letakkan di luar pintu. “Apa kardusmu masih ada lagi? Pasti masih ada lagi. Apa kau lapar?” Lalu ia mengulurkan tangannya. “Ngomong-ngomong, namaku Levi.”

Cath menelan ludah. Baru kali ini ia tersenyum secanggung ini. Kenapa? Mungkin ini terdengar aneh, tapi sejak dulu Cath mampu melihat aura. Semacam selubung yang memberikan label kepribadian setiap orang. Aura Levi-lah yang membuat Cath merasa canggung untuk berlama-lama didekatnya.

Mungkin sebaiknya Cath menjaga jarak.

“kau ikut ke pear’s?” ajak Levi dengan senyum menyeringai. Oh tidak!! Senyum menyeringai itu, sama persis dengan senyum seseorang yang akan selalu Cath ingat seumur hidupnya. Mungkinkah?

Lutut Cath gemetar hebat. Cath melihat sekelilingnya, berusaha mencari celah untuk kabur— berjaga-jaga jika Levi dan orang yang dikenalnya adalah jenis manusia yang sama.

“A...aku rasa tidak. Sepertinya ayahku masih dibawah. Aku akan turun mengambil sisa barangku, jika tidak mungkin dia akan naik kesini tidak lama lagi, jadi sebaiknya....” Cath adalah pembicara yang bodoh jika sudah gugup begini. Lututnya gemetar dan Cath harus menyembunyikannya dari orang didepannya, ditambah lagi gerak tubuhnya yang aneh dan suaranya yang bergetar.

Cath harap bisa keluar dari situasi ini secepatnya kemudian menelpon polisi, atau siapapun yang bisa menolongnya.

Levi memperlihatkan senyum yang aneh. Mengejek, marah, tertarik, atau benar-benar tersenyum, Cath sangat sulit membacanya “aku akan membantumu”

“Tidak usah. kardus yang tersisa tidak cukup berat. Hanya beberapa selimut dan...baju hangat. Aku harus turun sekarang” Cath dengan cepat berbalik, berlari menyusuri koridor dan berbelok ke kanan menuju tangga dengan nafas tertahan.

Semoga dia tidak mengikutiku, Tuhan...

Semoga dia tidak mengikutiku...

Semoga dia tidak mengikutiku....

Cath turun dengan terus berdoa, berharap ia selamat sampai ke mobil pick up dengan ayahnya yang menunggu disana.

“AYAH!!” begitu melihat ayahnya ada disana, Cath langsung berlari, memeluknya.

“Apa yang terjadi?” ayah Cath terlihat kaget dengan ekspresi ketakutan yang terpancar dari wajah Cath.

“Siapa yang sekamar denganku? Apa ayah yakin aku memiliki teman sekamar bernama Levi?”

Ayah Cath memutar bola matanya “aku rasa kau yang pertama memasuki kamar itu. Aku akan menelpon kepala asrama” jelas ayah Cath kemudian bergerak agak menjauh dari anaknya, seiring seseorang yang mulai berbicara di balik telepon.

Cath menarik nafas lega. Keputusannya tepan untuk segera berlari kesini. Ia tahu dari auranya, seseorang yang menyebut dirinya Levi itu bukanlah teman sekamarnya. Ia tahu, Levi bukanlah orang normal sepertinya.

“Cling!!” seketika tubuh Cath gemetar. Ia merasakan seseorang memperhatikannya lekat-lekat dibalik tembok asrama. Diujung matanya, Cath menangkap bayangan Levi yang meneringai ke arahnya.

Seringai seorang psikopat yang pernah dilihatnya 5 tahun yang lalu dari seorang teman sekelas saat ia bersekoah di Tanunda. 

SELESAI

Jumat, 24 Oktober 2014

Urban Legend SMA Neg. 3 Palopo

Cerita ini diikutsertakan dalam give away "Guerrila Quiz 3"



           SMA kami terkenal dengan kasus kesurupan siswanya yang lumayan sering. Terutama setelah kegiatan PERSAMI untuk siswa kelas 10. Semenjak kelas 10, aku memang sering merasa ada yang aneh dengan sekolahku. Auranya, juga angin yang berhembus kadang terasa panas.

Ada satu urban legend yang terkenal tentang sekolahku. Dulu, tepatnya 10 tahun yang lalu ada seorang kakak kelas yang tewas gantung diri disini.  Entah apa penyebabnya, namun urban legend tentang Kak Olivia ini terus menjadi cerita yang membuat sekolahku semakin kental dengan aura mistisnya.

Beberapa hari yang lalu teman-temanku bercerita alasan sebenarnya. Disitulah aku tahu kebenarannya. Kebenaran tentang penyebab Kak Olivia mengakhiri hidupnya.

*******

10 tahun yang lalu, Kak Olivia bersahabat dengan 4 orang cewek. Kak Oliv yang beragama non muslim, sangat tertarik dengan agama islam dan terus mempelajarinya dari keempat temannya. Kak Oliv perparas cantik juga memiliki kepribadian yang baik. Ia berpacaran dengan seorang cowok beragama islam yang bisa dikata “flower boy”.

Suatu hari, karena suatu alasan kak Oliv pulang terlambat, diantar oleh pacarnya. Orangtuanya yang marah besar kemudian menampar Kak Oliv di depan mata sang pacar. Sejak itu, Kak Oliv menjadi gadis yang pendiam. Merasa malu kepada pacarnya atas insiden penamparan itu.

Hingga akhirnya, kak Oliv meminta izin pulang kerumahnya, mengambil buku pe-ernya yang tertinggal. Tanpa pernah kembali.

Ia memutuskan untuk gantung diri.

Beberapa hari berlalu, 3 sahabat karibnya pulang dari Makassar setelah mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Ia melihat sahabatnya, Olivia tengah berlari riang mengelilingi lapangan luas yang terletak di belakang sekolah, melambai kepada ketiga sahabatnya.

“tadi pagi pas gue lewat depan sekolah, ada si Oliv lagi lari pake daster gitu” komentar salah seorang sahabatnya.

Seketika, bulukuduk temannya yang mengetahui kabar meninggalnya Kak Olivia merinding.

“Tapi Oliv udah meninggal 4 hari yang lalu...”