Entri Populer

Minggu, 01 Maret 2015

Terima Kasih Ibu, Karena Selalu Disisiku


Well, aku terlahir dari keluarga yang sedikit....unik, atau akulah yang “unik”?

Sejak kecil, kakakku selalu menjuarai berbagai macam lomba. Semua piala-piala berdebu dirumah kebanyakan didapatkannya sewaktu SD. Dulu, kakakku yang tertinggi di kelasnya. Dia cantik, berkepribadian baik, lucu dan pintar. Sejak SD ia selalu menjuarai lomba matematika, juga mewakili kotaku dalam sebuah lomba yang sangat bergengsi, OSN, walau hanya sampai tingkat Provinsi.

Dia terdengar sangat sempurna, bukan?

Yah begitulah. Sejak kecil, aku makan makanan yang sama dengannya, bahkan saling berbagi tempat tidur. Karena selalu menjadi anak yang membanggakan orang tuanya, orang tuaku mulai mendoktrinku untuk menjadi seorang anak yang seperti kakakku. Jujur, aku membencinya. Aku membencinya karena terlahir sangat sempurna.

Masa SDku bukanlah masa yang mudah. Aku harus mengikut dibelakang kakakku, seperti bayangan di setiap les matematikanya. Aku selalu dicekoki dengan angka yang jujur, membuatku trauma. Aku benci dengan angka-angka dan menyalahkan orang tuaku, terutama ibuku.

Jika saja “matematika” tidak menggoreskan trauma masa kecil, mungkin sekarang aku tidak harus menyontek setiap kali ulangan matematika.

Saat terendah dalam hidupku, ibu ada disana. Memelukku dengan dekapan yang sangat hangat. Setiap hari ibuku menyuruhku untuk mengikuti jejak kakakku, namun dimalam hari, kami akan duduk di depan Tivi dan beliau akan membelai rambutku, juga menanggapi cerita anak-anaknya.

Memasuki SMP, ketika itu pemikiranku setingkat lebih dewasa. Aku mulai memahami alasan ibuku terus mencekokiku dengan belajar. Beliau ingin masa depan yang sama bagi anak-anaknya, secerah matahari. Aku berusaha untuk mengerti dan belajar seperti keinginannya, selama aku sanggup. Langkah perubahan terbesar yang kulakukan terjadi di masa SMPku. Aku memilih keluar dari jalur matematika dan memilih untuk fokus ke mata pelajaran biologi yang kusukai. Aku juga mulai menulis.

Tahu kenapa aku memutuskan untuk menulis? Karena tulisan pertamaku berhasil menyelamatkanku dari posisi bayangan seumur hidup. Untuk pertama kalinya aku mengalahkan kakakku, lewat sebuah tulisan yang masih sangat mentah. Mungkin karena itu aku menulis. Karena, ada hal yang bisa aku lakukan melebihinya. Karena dengan menulis, aku tidak lagi menjadi bayangan.

Karena memilih untuk mempelajari pelajaran biologi yang kusukai lebih sering, aku akhirnya mampu membuktikan bahwa aku bisa. Aku mewakili kotaku di bidang biologi OSN, juga mewakili sekolahku untuk lomba NSO di Surakarta sewaktu SMP. Awalnya, ayahku menentang keras keputusanku untuk mempelajari biologi. Namun, ibuku ada disana dan mendukungku.

Ibuku ada disana, menggenggam tanganku dan berusaha untuk memahami pola pikir anaknya yang aneh ini.

******

Sekarang aku duduk di bangku SMA tahun terakhir. Sebulan lagi, aku tidak akan duduk di bangku terdepan dekat meja guru, sebangku dengan Febi.

Tidak lama lagi, aku tidak akan berjalan di jalanan yang besar, mengikuti arus seperti sekarang. Tidak lama lagi, aku harus memilih jalan hidupku. Memilih satu dari jutaan gang-gang kecil dan menyusurinya tanpa tahu ujungnya.

Bulan ini, aku harus mendaftar untuk SNMPTN. Kakakku adalah seorang mahasiswa pendidikan dokter di sebuah PTN terbaik di Sulawesi Selatan. Karenanya, ayahku menyuruhku untuk memilih jurusan yang sama dengannya, untuk sebuah masa depan yang adil. Ibuku juga mendukung keputusan ayahku. Karenanya, aku pikir aku bisa bertahan dengan ini. Jika ibuku menginginkan jalan yang seperti ini, maka aku akan bertaruh disini. Untuk orang tuaku, juga diriku sendiri. Hanya saja, aku takut.

Bu, bisakah kau tetap memegangi tanganku? Aku sangat takut dengan pilihanku.

Aku takut aku akan mengecewakan ibu. Aku takut mengecewakan seorang wanita hebat yang terus mendukung anak sepertiku.

Bu, meskipun sulit, bisakah ibu terus memegangku? Jangan lepaskan tanganku, kumohon.

Aku sangat takut akan terjatuh....

Aku juga taku aku tidak dapat membanggakanmu seperti kakak....

Aku takut....

Aku takut dunia tidak berpihak kepadaku.

Aku takut...

Aku takut, bu...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar