Entri Populer

Kamis, 19 Maret 2015

entri untuk keikutsertaan GA kireinasekai.blogpot.com

awalnya lumayan bingung soalnya disuruhmemposting entri di blog masing-masing, untuk keikutsertaan dalam GA+blogtour+reviewnya.

well. ikuti alur mainnya aja lah ya :3


The Wind Leading to LoveThe Wind Leading to Love by Yuki Ibuki
My rating: 5 of 5 stars

Judul: The Wind Leading to Love
Penulis: Yuki Ibuki
Penerbit: Penerbit Haru
Halaman: 342 halaman
Terbitan: Maret 2015

Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup.

Suga Tetsuji depresi. Menuruti saran dokter, dia mengasingkan diri di sebuah kota pesisir, di sebuah rumah peninggalan ibunya. Namun, yang menantinya bukanlah ketenangan, tapi seorang wanita yang banyak omong dan suka ikut campur bernama Fukui Kimiko. 

Fukui Kimiko kehilangan anak dan suaminya, dan menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian mereka berdua. Dia menganggap dirinya tidak pantas untuk berbahagia. 

Setelah menyelamatkan Tetsuji yang nyaris tenggelam, Kimiko menawarkan bantuan pada pria itu untuk membereskan rumah peninggalan ibunya agar layak jual. Sebagai gantinya, wanita itu meminta Tetsuji mengajarinya musik klasik, dunia yang disukai anaknya. 

Mereka berdua semakin dekat, tapi…. 

Review

"The Wind Leading to Love" bercerita tentang Suga Tetsuji, seorang pria Tokyo yang mengasingkan diri ke Miwashi, sebuah kota yang dikelilingi gunung dan laut. Tetsuji pergi ke sana untuk merapikan rumah peninggalan ibunya, sekaligus menenangkan diri dari stressnya akibat rumah tangganya yang berantakan.

Tetsuji menutup matanya dan terus melangkah ke tengah laut. Tiba-tiba tubuhnya tenggelam, tetapi saat kakinya digerakkan ia masih bisa membuat dirinya mengambang. "Lelahnya," bisik Tetsuji lagi sambil tertawa.

Apa aku coba saja untuk menenggelamkan diri? (hal. 22)

Di sisi lain, ada Fukui Kimiko, wanita cerewet yang kembali ke Miwashi untuk merayakan obonbagi almarhum suami dan anaknya. Walau selalu terlihat ceria, Kimiko sebenarnya masih terus bersedih atas kematian anaknya yang tenggelam di laut.

Waktu awal membaca novel ini, saya sempat bertanya-tanya, Bagaimana penulis akan memperlihatkan chemistry antara Tetsuji dan Kimiko? Karena di awal pertemuan mereka, saya jujur tidak merasakan ada chemistry apa-apa. Kimiko yang cerewet dan terkesan seenaknya tidak begitu Tetsuji sukai. Dan cara penulis membangun chemistry inilah yang kurasa jadi poin terkuat novel ini, karena pada akhirnya, saya mendukung Tetsuji dan Kimiko. I ship them.

Inti novel ini bukan hanya soal percintaan antara Tetsuji dan Kimiko, tapi lebih ke arah dua orang dengan masalah "hati" masing-masing. Tetsuji yang merasa lelah dengan pekerjaannya yang jalan di tempat, istri yang berselingkuh dengan pria lain, hingga suatu masalah yang pasti bisa dipahami oleh semua pria.

Kimiko juga masih dihantui oleh kematian anak dan suaminya. Dia masih menyesal dengan hal terakhir yang terjadi sebelum anaknya meninggal. 

Terdengar suara lirih Tetsuji, "Yang tersisa sekarang hanyalah rute yang salah. Aku telah kehilangan kesempatan untuk pergi ke arah yang benar."

"Siapa yang bilang begitu? Kau ini sedang menanti angin. Sampai saat angin yang cocok datang, kau menunggu di pelabuhan." (hal. 125)

Secara keseluruhan, "The Wind Leading to Love" adalah sebuah kisah cinta yang sangat dewasa dan... manis. Tidak, tidak. Mungkin "menggetarkan hati" adalah frasa yang lebih tepat untuk hubungan antara Tetsuji dan Kimiko. Salut untuk terjemahannya yang enak dibaca, serta bersih. Saya tidak ingat ada typo di buku ini.

Minggu, 01 Maret 2015

Terima Kasih Ibu, Karena Selalu Disisiku


Well, aku terlahir dari keluarga yang sedikit....unik, atau akulah yang “unik”?

Sejak kecil, kakakku selalu menjuarai berbagai macam lomba. Semua piala-piala berdebu dirumah kebanyakan didapatkannya sewaktu SD. Dulu, kakakku yang tertinggi di kelasnya. Dia cantik, berkepribadian baik, lucu dan pintar. Sejak SD ia selalu menjuarai lomba matematika, juga mewakili kotaku dalam sebuah lomba yang sangat bergengsi, OSN, walau hanya sampai tingkat Provinsi.

Dia terdengar sangat sempurna, bukan?

Yah begitulah. Sejak kecil, aku makan makanan yang sama dengannya, bahkan saling berbagi tempat tidur. Karena selalu menjadi anak yang membanggakan orang tuanya, orang tuaku mulai mendoktrinku untuk menjadi seorang anak yang seperti kakakku. Jujur, aku membencinya. Aku membencinya karena terlahir sangat sempurna.

Masa SDku bukanlah masa yang mudah. Aku harus mengikut dibelakang kakakku, seperti bayangan di setiap les matematikanya. Aku selalu dicekoki dengan angka yang jujur, membuatku trauma. Aku benci dengan angka-angka dan menyalahkan orang tuaku, terutama ibuku.

Jika saja “matematika” tidak menggoreskan trauma masa kecil, mungkin sekarang aku tidak harus menyontek setiap kali ulangan matematika.

Saat terendah dalam hidupku, ibu ada disana. Memelukku dengan dekapan yang sangat hangat. Setiap hari ibuku menyuruhku untuk mengikuti jejak kakakku, namun dimalam hari, kami akan duduk di depan Tivi dan beliau akan membelai rambutku, juga menanggapi cerita anak-anaknya.

Memasuki SMP, ketika itu pemikiranku setingkat lebih dewasa. Aku mulai memahami alasan ibuku terus mencekokiku dengan belajar. Beliau ingin masa depan yang sama bagi anak-anaknya, secerah matahari. Aku berusaha untuk mengerti dan belajar seperti keinginannya, selama aku sanggup. Langkah perubahan terbesar yang kulakukan terjadi di masa SMPku. Aku memilih keluar dari jalur matematika dan memilih untuk fokus ke mata pelajaran biologi yang kusukai. Aku juga mulai menulis.

Tahu kenapa aku memutuskan untuk menulis? Karena tulisan pertamaku berhasil menyelamatkanku dari posisi bayangan seumur hidup. Untuk pertama kalinya aku mengalahkan kakakku, lewat sebuah tulisan yang masih sangat mentah. Mungkin karena itu aku menulis. Karena, ada hal yang bisa aku lakukan melebihinya. Karena dengan menulis, aku tidak lagi menjadi bayangan.

Karena memilih untuk mempelajari pelajaran biologi yang kusukai lebih sering, aku akhirnya mampu membuktikan bahwa aku bisa. Aku mewakili kotaku di bidang biologi OSN, juga mewakili sekolahku untuk lomba NSO di Surakarta sewaktu SMP. Awalnya, ayahku menentang keras keputusanku untuk mempelajari biologi. Namun, ibuku ada disana dan mendukungku.

Ibuku ada disana, menggenggam tanganku dan berusaha untuk memahami pola pikir anaknya yang aneh ini.

******

Sekarang aku duduk di bangku SMA tahun terakhir. Sebulan lagi, aku tidak akan duduk di bangku terdepan dekat meja guru, sebangku dengan Febi.

Tidak lama lagi, aku tidak akan berjalan di jalanan yang besar, mengikuti arus seperti sekarang. Tidak lama lagi, aku harus memilih jalan hidupku. Memilih satu dari jutaan gang-gang kecil dan menyusurinya tanpa tahu ujungnya.

Bulan ini, aku harus mendaftar untuk SNMPTN. Kakakku adalah seorang mahasiswa pendidikan dokter di sebuah PTN terbaik di Sulawesi Selatan. Karenanya, ayahku menyuruhku untuk memilih jurusan yang sama dengannya, untuk sebuah masa depan yang adil. Ibuku juga mendukung keputusan ayahku. Karenanya, aku pikir aku bisa bertahan dengan ini. Jika ibuku menginginkan jalan yang seperti ini, maka aku akan bertaruh disini. Untuk orang tuaku, juga diriku sendiri. Hanya saja, aku takut.

Bu, bisakah kau tetap memegangi tanganku? Aku sangat takut dengan pilihanku.

Aku takut aku akan mengecewakan ibu. Aku takut mengecewakan seorang wanita hebat yang terus mendukung anak sepertiku.

Bu, meskipun sulit, bisakah ibu terus memegangku? Jangan lepaskan tanganku, kumohon.

Aku sangat takut akan terjatuh....

Aku juga taku aku tidak dapat membanggakanmu seperti kakak....

Aku takut....

Aku takut dunia tidak berpihak kepadaku.

Aku takut...

Aku takut, bu...


Kamis, 05 Februari 2015

Adilkah dunia ini??

Aku terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, namun tidak pernah menyesal atau menginginkan keluarga baru yang lebih sempurna.

Aku menyayangi mereka.

Bersyukur memang hal yang penting. Tapi, haruskah kita berhenti berusaha dan "hanya" bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang?

Lantas jika demikian, lalu kenapa soekarno menyuruh anak bangsa untuk menggantungkan cita-cita mereka?? Haruskah yang diatas semakin ditarik keatas, sementara yang dibawah hanya duduk tanpa melakukan pemberontakan?

Berusaha melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya memang tampak mustahil. Maksudku, aku yang pertama dikelurgaku yang menulis novel, dan hal-hal yang membuang-buang waktu lainnya.

Aku percaya dunia ini adil. Aku bukanlah anak yang bberasal dari keluarga konglomerat atau anak mentri. Aku hanya anak biasa. ,

Aku ingin menulis dan merubah nasibku, membuat uang sendiri, dan merubah status sosial. Itu memang bukan hal yang mustahil. Tapi, kenapa Tuhan tidak pernah memberiku celah kecil yang bisa kujadikan titik awal. Aku memang berusaha, sekarang sudah genap 6 tahun tanpa hasil yang berarti.

Jika berhenti sekarang, maka itu artinya aku berserah pada takdir. Jika terus berusaha disini, aku tidak lebih dari seorang yang bodoh.

Adilkah pilihanku??

Adilkah aku berusaha sebodoh ini tanpa hasil??

Tuhan, tolong beri aku jalan, atau setidaknya sesuatu yang memberiku keyakinan lebih. Aku mulai meragukan diriku sendiri, Tuhan.....



2-6-10-20-2015

NJ

Jumat, 07 November 2014

SURAT UNTUK KOGA SONOKO

 Tulisan ini diikutsertakan dalam give away  "Guerrila Quiz 4"


Hai Sonoko-chan~ bagaimana kabarmu?

Aku berharap kau baik-baik saja? Well, tidak juga. Kau tahu? Sinister dan jeff the killer sedang berkeliaran di luar sana. LOL.

Oh ya. Kemarin aku memikirkan tentangmu, maksudku tanganku bergerak sendiri menulis syair ini. Seperti yang kuceritakan tentang ketua shiraishi itsumi-san.

Taman mawar bersama para malaikat. Angin kencang berembus membawa debu petaka. Taman mawar kini tak terlihat warna lagi. Yang terlihat hanya duri pemangsa kulit-kulit tipis. Malaikat berjubah putih kehilangan bulu-bulu indah mereka, menghitam...sehitam malam.... Para malaikat pencabut nyawa. 

Awan hitam menyelimuti kota pagi ini. Membawa sinar berbagai warna, gelap dan terang. Namun, awan hitam tak juga menurunkan hujan. Hanya dingin menusuk sampai tulang, membeku sampai di tanah.

Magma api menyembur tanpa seorang pun yang lari. Tawa terdengar dari setiap bilik takdir setiap orang. Tidak ada rasa takut maupun cemas. Takdir yang lain membunuh ratusan mahluk hidup. Para pencabut nyawa mulai membedah isi perut mereka.

Ada dua belas. Bukan angka sial, tapi akan membawa kesialan.

Ada dua belas, sebanyak pemain tim sepakbola, tapi tidak sedang bermain.

Berhati-hatilah! Semakin mudah kau terbang, maka akan semakin berbahaya.

Aku juga tidak tahu maksudnya. Kau tahu, mungkin sebuah peringatan akan kematian, mungkin :P.

Kau mengingat bagaimana sajak kematian yang kubuatkan anak perempuan di kelas sebelah? Itu benar-benar terjadi! Aku bahkan tidak tahu kenapa setiap aku tertidur, aku akan terbangun dengan kertas semacam ini setiap hari.

Sonoko-chan, aku merasa bersalah begitu aku mendapati sajak itu bertuliskan namamu, untukmu. Tapi, aku harus tetap memberitahukanmu, bukan? Semoga yang terjadi tidak begitu parah (kau mengerti maksudkukan?). ayo bertemu secepatnya!


With love,    



Red Apple


P.S : Jeju sangat panas (^_^)

Sabtu, 25 Oktober 2014

[Fan Fiksi] [Cerpen] Meet Cath and Levi

[Diikutkan dalam lomba cerpen FANGIRL Penerbit Spring]



Dari penulis best-seller Eleanor and Park

Penulis: Rainbow Rowell
Terbit: November 2014

********

Ada cowok di dalam kamarnya.

       Cath mendongak untuk melihat nomor yang tertulis di pintu, lalu menunduk ke surat penempatan kamar di tangannya.

         Pound Hall, 913.

        Sudah pasti ini kamar 913, tapi mungkin bukan Pound Hall—semua asrama di sini terlihat sama, seperti bangunan perumahan untuk kaum jompo. Mungkin Cath sebaiknya mencoba menahan ayahnya sebelum ayahnya itu membawa sisa kardusnya ke atas.

          “Kau pasti Cather,” kata cowok itu, tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.

         “Cath,” kata Cath, merasakan sentakan rasa gugup di perutnya. Ia mengabaikan tangan cowok itu. (Lagian, ia memegang kardus, apa yang diharapkan cowok itu darinya?)

           Ada yang salah—pasti ada yang salah. Cath tahu kalau Pound itu asrama campuran…. Apa memang ada kamar campuran?

            Cowok itu mengambil kardus dari tangan Cath dan meletakkannya di atas tempat tidur yang kosong. Tempat tidur di sisi lain ruangan sudah dipenuhi dengan pakaian dan kardus.

“Apa barangmu masih ada yang di bawah?” tanya cowok itu. “Kami baru saja selesai. Kurasa kami akan pergi makan burger sekarang; kau mau burger? Apa kau sudah pernah ke Pear’s? Burgernya seukuran kepalanmu.” Cowok itu mengangkat lengan Cath. Cath menelan ludah. “Kepalkan tanganmu,” kata cowok itu.

               Cath melakukannya.

              “Lebih besar dari kepalanmu,” kata cowok itu, melepaskan tangan Cath dan mengangkat tas punggung yang Cath letakkan di luar pintu. “Apa kardusmu masih ada lagi? Pasti masih ada lagi. Apa kau lapar?” Lalu ia mengulurkan tangannya. “Ngomong-ngomong, namaku Levi.”

Cath menelan ludah. Baru kali ini ia tersenyum secanggung ini. Kenapa? Mungkin ini terdengar aneh, tapi sejak dulu Cath mampu melihat aura. Semacam selubung yang memberikan label kepribadian setiap orang. Aura Levi-lah yang membuat Cath merasa canggung untuk berlama-lama didekatnya.

Mungkin sebaiknya Cath menjaga jarak.

“kau ikut ke pear’s?” ajak Levi dengan senyum menyeringai. Oh tidak!! Senyum menyeringai itu, sama persis dengan senyum seseorang yang akan selalu Cath ingat seumur hidupnya. Mungkinkah?

Lutut Cath gemetar hebat. Cath melihat sekelilingnya, berusaha mencari celah untuk kabur— berjaga-jaga jika Levi dan orang yang dikenalnya adalah jenis manusia yang sama.

“A...aku rasa tidak. Sepertinya ayahku masih dibawah. Aku akan turun mengambil sisa barangku, jika tidak mungkin dia akan naik kesini tidak lama lagi, jadi sebaiknya....” Cath adalah pembicara yang bodoh jika sudah gugup begini. Lututnya gemetar dan Cath harus menyembunyikannya dari orang didepannya, ditambah lagi gerak tubuhnya yang aneh dan suaranya yang bergetar.

Cath harap bisa keluar dari situasi ini secepatnya kemudian menelpon polisi, atau siapapun yang bisa menolongnya.

Levi memperlihatkan senyum yang aneh. Mengejek, marah, tertarik, atau benar-benar tersenyum, Cath sangat sulit membacanya “aku akan membantumu”

“Tidak usah. kardus yang tersisa tidak cukup berat. Hanya beberapa selimut dan...baju hangat. Aku harus turun sekarang” Cath dengan cepat berbalik, berlari menyusuri koridor dan berbelok ke kanan menuju tangga dengan nafas tertahan.

Semoga dia tidak mengikutiku, Tuhan...

Semoga dia tidak mengikutiku...

Semoga dia tidak mengikutiku....

Cath turun dengan terus berdoa, berharap ia selamat sampai ke mobil pick up dengan ayahnya yang menunggu disana.

“AYAH!!” begitu melihat ayahnya ada disana, Cath langsung berlari, memeluknya.

“Apa yang terjadi?” ayah Cath terlihat kaget dengan ekspresi ketakutan yang terpancar dari wajah Cath.

“Siapa yang sekamar denganku? Apa ayah yakin aku memiliki teman sekamar bernama Levi?”

Ayah Cath memutar bola matanya “aku rasa kau yang pertama memasuki kamar itu. Aku akan menelpon kepala asrama” jelas ayah Cath kemudian bergerak agak menjauh dari anaknya, seiring seseorang yang mulai berbicara di balik telepon.

Cath menarik nafas lega. Keputusannya tepan untuk segera berlari kesini. Ia tahu dari auranya, seseorang yang menyebut dirinya Levi itu bukanlah teman sekamarnya. Ia tahu, Levi bukanlah orang normal sepertinya.

“Cling!!” seketika tubuh Cath gemetar. Ia merasakan seseorang memperhatikannya lekat-lekat dibalik tembok asrama. Diujung matanya, Cath menangkap bayangan Levi yang meneringai ke arahnya.

Seringai seorang psikopat yang pernah dilihatnya 5 tahun yang lalu dari seorang teman sekelas saat ia bersekoah di Tanunda. 

SELESAI